Wednesday, February 5, 2014

Hakekat Hidup

"Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain" (Al-Hadits)

Alkisah, seorang presiden direktur perusahaan nasional berlibur di sebuah pantai. Suatu sore, saat sang presdir berjalan-jalan menikmati pemandangan pantai yang indah seorang diri, matanya terbentur pada sesosok pemuda berpakaian compang-camping yang sedang bermalas-malasan di atas bale-bale bambu di pinggir pantai itu.
Sang presdir yang sudah terbiasa bekerja keras sejak muda merasa terusik dengan aktivitas pemuda tersebut. Pikirannya, kalau saja para pemuda bangsa ini kerjanya hanya tidur-tiduran dan bermalas-malasan seperti ini, bagaimana mungkin negara ini bisa maju ? Iapun segera menghampiri pemuda itu. "Nak, sedang apa engkau?" Ia bertanya.
Pemuda tersebut menoleh dan malah balik bertanya, "Apakah Anda tak melihat saya sedang tidur-tiduran?"
Meskipun perasaan geram menyelimuti hati sang presdir, ia berusaha menahan diri. Pikirannya, mungkin pemuda ini belum mengerti hakikat hidup yang harus dijalani manusia. Sang presdir yang merasa terpanggil untuk menyadarkannya. "Nak, apa kau tidak bekerja?"
"Untuk apa?" kata pemuda itu kembali bertanya.
"Ya supaya engkau bisa mendapat uang," jelas sang presdir menahan kesal.
"Untuk apa?" tanya si pemuda lagi.
"Ya supaya kau bisa membeli benda-benda yang kau butuhkan. Supaya kau bisa punya tabungan, punya rumah. Supaya setelah tua nanti kau bisa menikmati hidup dan tidur bermalas-malasan seperti sekarang ini!" papar sang presdir dengan perasaan marah namun tetap masih dapat menahan diri.
"Oh, iya? lantas, apa kau tak melihat apa yang sedang saya lakukan?" balas si pemuda.

M.K. Sutrisna Suryadilaga
The Balance Ways